Napak Tilas Kota Thaif

Thoif adalah salah satu kota yang sangat Bersejarah

5/5

Kisah Lengkap Perjalanan Nabi ke Thaif

Latar Belakang

Peristiwa perjalanan Rasulullah ﷺ ke Thaif terjadi pada tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan). Tahun itu, dua pelindung utama beliau wafat:
• Abu Thalib, paman yang selama ini melindungi dari gangguan Quraisy.
• Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri tercinta, sumber ketenangan hati beliau.

Sepeninggal keduanya, tekanan, ejekan, dan siksaan dari kaum Quraisy semakin menjadi-jadi. Karena itu, Nabi ﷺ mencari tempat baru untuk berdakwah dan berharap ada yang mau menerima Islam.

Perjalanan ke Thaif

Thaif terletak sekitar 80-100 km dari Makkah, di dataran tinggi yang sejuk. Dikenal sebagai kota subur dengan penduduk yang cukup makmur, Thaif dipimpin oleh Bani Tsaqif.

Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif dengan berjalan kaki bersama Zaid bin Haritsah, anak angkatnya. Perjalanan ini berat, melewati padang pasir berbatu dan panas terik.

Sampai di Thaif

Setibanya di Thaif, Rasulullah ﷺ menemui para pemimpin Bani Tsaqif. Namun, mereka menolak dengan cara yang sangat kasar:
1. Satu pemimpin berkata,
“Kalau memang kamu benar Nabi, maka terlalu berbahaya bagiku untuk berbicara denganmu. Dan kalau kamu berdusta, tidak pantas aku meladeni orang pendusta.”
2. Yang lain mengejek, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain engkau untuk diutus sebagai Nabi?”
3. Ada pula yang berkata, “Aku tidak mau bicara sama sekali, takut nanti kebohonganmu menimpaku.”

Penyiksaan dan Pengusiran

Tak hanya menolak, mereka malah memerintahkan para budak dan anak-anak untuk melempari Nabi ﷺ dengan batu. Darah mengucur dari kaki beliau, hingga sandal beliau lengket oleh darahnya sendiri. Zaid berusaha melindungi, namun juga terkena lemparan.

Rasulullah ﷺ keluar dari Thaif dalam keadaan sangat lelah, sakit, dan penuh luka. Mereka berjalan tanpa arah hingga sampai di kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah (orang Quraisy yang saat itu kebetulan ada di Thaif). Mereka merasa iba dan mengirimkan pelayan Kristen bernama Addas untuk membawa anggur kepada Rasulullah ﷺ.

Doa di Lembah

Di tengah rasa sakit itu, Rasulullah ﷺ tidak mendoakan keburukan bagi penduduk Thaif, melainkan memanjatkan doa penuh keikhlasan:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Ya Allah, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkau adalah Rabbku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang memandangku dengan muka masam, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun, ampunan-Mu lebih luas bagiku…”

Pertolongan dan Kabar Gembira

Di perjalanan pulang ke Makkah, Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung, menawarkan untuk menghancurkan Thaif dengan dua gunung. Namun Rasulullah ﷺ menolak dan berkata:

“Tidak, aku berharap kelak akan lahir dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”

Doa itu terkabul. Beberapa tahun kemudian, penduduk Thaif memeluk Islam, dan kota itu menjadi salah satu benteng penting dalam sejarah Islam.

Makna Ziarah Thaif

Bagi jamaah umroh, Thaif bukan hanya kota sejuk di dataran tinggi. Ia adalah saksi kesabaran, keteguhan, dan cinta Rasul kepada umatnya. Berdiri di tempat itu seakan mengingatkan kita:
• Bahwa jalan menuju ridha Allah penuh ujian.
• Bahwa dakwah dan kebaikan harus dibalas dengan kesabaran.
• Bahwa cinta Rasul kepada kita melebihi rasa sakit yang beliau derita.

GALERY PERJALANAN THAIF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HADIRI...!!!

Daftarkan Diri Anda di seminar terdekat dengan Kota Anda: